PERANAN EKONOMI KERJA

Dalam menguraikan peranan lingkungan kerja terdapat kesulitan bahwa uraian-uraian tersebut kurang didasarkan pada hasil-hasil dari penelitian empiris dan eksperimental yang terinci. Ini disebabkan sama seperti yang telah diuraikan dalam pembicaraan mengenai peranan sekolah terkait perkembangan individu.
Upaya-upaya penelitian mengenai pengaruh lingkungan kerja hanya berdasarkan observasi mengenai lingkungan kerja. Hal ini diduga dapat mempengaruhi perkembangan sosial individu. Pengaruh positif dari lingkungan kerja dalam suatu perusahaan besar yang modern, terhadap perkembangan sosial individu diantaranya, terlatihnya masyarakat dalam bekerja secara tersusun. Terpeliharanya kebersihan dan ketelitian disamping itu, kecermatan, ketepatan, kecepatan dan keteraturan yang diperlukan dalam bermacam-macam pekerjaan dalam suatu perusahaan modern itu mempunyai pengaruh mendisiplinkan dan membentuk manusia yang cakap.
Contohnya saja, setiap pegawai perusahaan wajib datang tepat waktu bila terlambat akan diberikan hukuman. Sebaliknya pengaruh negatif dari hidup dan cara kerja disuatu kota industri besar modern diantaranya, tidak adanya lagi sifat kekeluargaan dalam interaksi masyarakat tetapi bercorak nasional dan terlampau individualistis.
Mengenai pengaruh kerja dilingkungan pertanian, ada pendapat bahwa lingkungan kerja tersebut dapat membentuk kepribadian yang harmonis, realistis, tidak tergesa-gesa dan bersifat kekeluargaan. Pendapat ini belum didukung oleh penelitian eksperimental yang secara prinsip dapat dilaksanakan.

PERANAN MEDIA MASSA

Pengaruh media massa seperti majalah, surat kabar, radio, film dan televisi sangat besar bagi perkembangan sosial individu. Terutama dalam perubahan atitude-atitude. Yang menjadi perhatian peneliti mengenai pengaruh media massa terhadap perkembangan seseorang adalah apa dan bagaimana pengaruh negatif dari menonton bioskop, melihat televisi dan membaca komik.
Seorang peneliti, Flik 1954, mendapatkan bahwa pada sejumlah anak yang menjadi kriminal terdapat frekuensi yang lebih tinggi yaitu rata-rata 2x seminggu mereka menonton bioskop. Akan tetapi, perbedaan frekuensi penonton bioskop tidak terlalu berdampak bagi perubahan tingkah laku seseorang. Hal ini didasarkan pada penelitian Shuttleworth May (23), New York, 1993.
Berbeda dengan beberapa hasil penelitian mengenai pengaruh sering menonton televisi pada anak-anak. Evry, 1952, mendapatkan bahwa 33,3% anak yang sering menonton televisi dinilai gurunya tidak tenang atau gelisah. Dan anak yang menonton televisi lebih dari 11-15 jam seminggu akan mengalami penurunan prestasi.
Sedangkan pengaruh dari membaca komik diteliti oleh Doetsch 1959, kesimpulannya taraf intelegensi dan pergaulan sosial antara anak yang membaca komik atau tidak itu tidak berbeda secara signifikan. Akan tetapi, remaja yang tidak membaca komik akan lebih teliti dan sungguh-sungguh.
Dari sini tampak bahwa terpaan orang yang terkena komunikasi massa belum mempunyai akibat yang cukup tegas. Jadi, bukan frekuensi yang menentukan adanya pengaruh tertentu namun isi dari film, buku atau ceramah itulah yang lebih mempengaruhi perubahan sosial.

~ oleh Febry kurniantoro pada November 16, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: