Pegadaian di Indonesia

 Pengertian,
Dalam kegiatan sehari-hari, uang selalu saja di butuhkan untuk membeli atau membayar berbagai keperluan.dan yang menjadi masalah terkadang kebutuhan yang ingin membeli tidak dapat di cukupi dengan uang yang dimilikinya. Kalau sudah demikian maka mau tidak mau kita mengurangi untuk membeli berbagai keperluan yang dianggap tidak penting, namun untuk keperluan yang sangat penting terpaksa harus di penuhi dengan berbagai cara seperti meminjam dari berbaga sumber dana yang ada.
Jika kebutuhan dana jumlahnya besar, maka dalam jangka pendek sulit untuk di penuhi, apalagi jika harus di penuhi lewat lembaga perbankan.namun jika dana yang di butuhkan relative kecil tidak jadi masalah,karena banyak tersedia sumber dana yang murah dan cepat,mulai dari pinjaman ke tetangga,sampai kepinjaman dari berbagai lembaga keuangan lainnya.
Secara umum pengertian usaha gadai adalah kegiatan menjaminkan barang-barang berharga kepada pihak tertentu, guna memperoleh sejumlah uang dan barang yang di jaminkan akan di tebus kembali sesuai dengan perjanjian antara nasabah dengan lembaga gadai.
Dan dari pengertian di atas dapat di simpulkan usaha gadai memiliki cirri-ciri sbb:
1. terdapat barang-barang berharga yang di gadaikan.
2. nilai jumlah pinjaman tergantung nilai barang yang di gadaikan.
3. barang yang di gadaikan dapat ditebus kembali.

 Sejarah berdirinya pegadaian di Indonesia
Sejarah Pegadaian dimulai pada saat Pemerintah Penjajahan Belanda mendirikan Bank Van Leening yaitu lembaga keuangan yang memberikan kredit dengan sistem gadai yang didirikan di Batavia pada tanggal 20 Agustus 1746.
Ketika Inggris mengambil alih kekuasaan Indonesia dari tangan Belanda (1811-1816), Bank Van Leening milik pemerintah dibubarkan, dan masyarakat diberi keleluasaan untuk mendirikan usaha pegadaian asal mendapat lisensi dari Pemerintah Daerah setempat (liecentie stelsel). Namun metode tersebut berdampak buruk, pemegang lisensi menjalankan praktek rentenir atau lintah darat yang dirasakan kurang menguntungkan pemerintah Inggris yang berkuasa saat itu. Oleh karena itu, metode liecentie stelsel diganti menjadi pacth stelsel yaitu pendirian pegadaian diberikan kepada umum yang mampu membayarkan pajak yang tinggi kepada pemerintah.
Pada saat Belanda berkuasa kembali, pola atau metode pacth stelsel tetap dipertahankan dan menimbulkan dampak yang sama dimana pemegang hak ternyata banyak melakukan penyelewengan dalam menjalankan bisnisnya. Selanjutnya pemerintah Hindia Belanda menerapkan apa yang disebut dengan ‘cultuur stelsel’ dimana dalam kajian tentang pegadaian, saran yang dikemukakan adalah sebaiknya kegiatan pegadaian ditangani sendiri oleh pemerintah agar dapat memberikan perlindungan dan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. .
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Staatsblad (Stbl) No. 131 tanggal 12 Maret 1901 yang mengatur bahwa usaha Pegadaian merupakan monopoli Pemerintah dan tanggal 1 April 1901 didirikan Pegadaian Negara pertama di Sukabumi (Jawa Barat), selanjutnya setiap tanggal 1 April diperingati sebagai hari ulang tahun Pegadaian.
Pada masa pendudukan Jepang, gedung Kantor Pusat Jawatan Pegadaian yang terletak di Jalan Kramat Raya 162 dijadikan tempat tawanan perang dan Kantor Pusat Jawatan Pegadaian dipindahkan ke Jalan Kramat Raya 132. Tidak banyak perubahan yang terjadi pada masa pemerintahan Jepang, baik dari sisi kebijakan maupun Struktur Organisasi Jawatan Pegadaian. Jawatan Pegadaian dalam Bahasa Jepang disebut ‘Sitji Eigeikyuku’, Pimpinan Jawatan Pegadaian dipegang oleh orang Jepang yang bernama Ohno-San dengan wakilnya orang pribumi yang bernama M. Saubari.
Pada masa awal pemerintahan Republik Indonesia, Kantor Jawatan Pegadaian sempat pindah ke Karang Anyar, Kebumen karena situasi perang yang kian terus memanas. Agresi militer Belanda yang kedua memaksa Kantor Jawatan Pegadaian dipindah lagi ke Magelang. Selanjutnya, pascaperang kemerdekaan Kantor Jawatan Pegadaian kembali lagi ke Jakarta dan Pegadaian kembali dikelola oleh Pemerintah Republik Indonesia.
Dalam masa ini Pegadaian sudah beberapa kali berubah status, yaitu sebagai Perusahaan Negara (PN) sejak 1 Januari 1961, kemudian berdasarkan PP.No.7/1969 menjadi Perusahaan Jawatan (PERJAN), selanjutnya berdasarkan PP.No.10/1990 (yang diperbaharui dengan PP.No.103/2000) berubah lagi menjadi Perusahaan Umum (PERUM) hingga sekarang.

Kini usia Pegadaian telah lebih dari seratus tahun, manfaat semakin dirasakan oleh masyarakat, meskipun perusahaan membawa misi public service obligation, ternyata perusahaan masih mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam bentuk pajak dan bagi keuntungan kepada Pemerintah, disaat mayoritas lembaga keuangan lainnya berada dalam situasi yang tidak menguntungkan. (http://www.ciputraentrepreneurship.com/perusahaan-a-merek/nasional/perusahaan/1716-pegadaian-mengatasi-masalah-tanpa-masalah.html)

 Keuntungan usaha gadai
Tujuan utama usaha pegadaian adalah untuk mengatasi agar masyarakat yang sedang membutuhkan uang tidak jatuh ke tangan para pelepas uang atau tukang rentenir yang bunganya relatif tinggi. Perusahaan pegadaian menyediakan pinjaman uang dengan jaminan barang-barang berharga. Meminjam uang ke perum pegadaian bukan saja karena prosedurnya yang mudah dan cepat tapi karena biaya yag dibebankan lebih ringan jika di bandingkan dengan para pelepas uang atau tukang rentenir.hal ini di lakukan sesuai dengan salah satu tujuan dari perum pegadaian dalam pemberian pinjaman kepada masyarakat dengan moto “ menyelesaikan masalah tanpa masalah “. Keuntungan pegadaian adalah pihak pegadai tidak mempermasalahkan untuk apa uang tersebut digunakan dan hal ini tentu bertolak belakang dengan pihak perbankan yang harus dibuat serinci mungkin tentang penggunaan uangnya. Kendala utamanya adalah prosedurnya yang rumit dan memakan waktu yang relative lebih lama. Kemudian di samping itu persyaratan yang lebih sulit untuk di penuhi seperti dokumen yang harus lengkap, membuat masyarakat mengalami kesulitan untuk memenuhinya.
Keuntungan lain di pegadaian adalah pihak pegadaian tidak mempermasalahkan untuk apa uang tersebut di gunakan dan hal ini tentu bertolak belakang dengan pihak perbankan yang harus di buat dengan serinci mungkin tentang penggunaan uangnya.sanksinya adalah jaminan yang disimpan akan di lelang untuk menutupi kekurangan pinjaman yang telah di berikan.
Jadi keuntungan perusahaan pegadaian jika di bandingkan dengan lembaga keuangan bank atau lembaga keuangan lainnya adalah:
1) Waktu byang relative singkat untuk memperoleh uang yaitu pada hari itu juga, hal ini di sebabkan prosedurnya yang tidak berbelit-belit.
2) Persyaratan yang sangat sederhana sehingga memudahkan konsumen untuk memenuhinya.
3) Pihak pegadaian tidak mempermasalahkan uang tersebut di gunakan untuk apa, jadi sesuai dengan kehendak nasabahnya.

 Prosedur memperoleh pinjaman
Kredit yang diperoleh dari perum pegadaian pada umumnya dipergunakan untuk menambah biaya produksi, modal kerja, biaya pendidikan, kebutuhan sehari-hari dan lain-lain. Nasabah datang ke kantor pegadaian dengan membawa barang-barang jaminan.
Mayoritas barang jaminan terdiri dari perhiasaan emas berlian (terutama dicabag-cabag kota besar) . selebihnya adalah kendaraan roda dua dan mobil, elektronika serta peralatan rumah tangga lainnya.barang jaminan diserahkan pada petugas penaksir,setalah penaksir menghitung nilai barang jaminan lalu ke kasir untuk menerima kredit yang di ajukan. Penetapan uang pinjaman dapat mencapai sekitar 84% – 89% dari nilai taksiran.

 Prosedur pengembalian pinjaman
Setiap saat uang pinjaman dapat di lunasi tanpa harus menunggu habisnya jangka waktu. Proses pengembalian kredit sampai penerimaan kembali barang jaminan, memakan waktu kurang lebih 15 menit serta tidak di kenakan pungutan lain kecuali sewa modal dan biaya asuransi. Caranya, nasabah langsung membawa uang dan surat pinjaman menemui kasir. Tidak lama kemudian petugas akan menyerahkan barang-barang yang di jaminkan.

 Lelang barang jaminan
Jika sampai batas waktu kredit nasabah tidak melunasi, mencicil atau memperpanjang kredit, barang jaminan akan di lelang pada bulan ke 5. pelelangan di laksanakan oleh pegadaian sendiri (staatsblad tahun 1920 no. 133). Tanggal lelang di umumkan melalui papan pengumuman dan media radio. Dalam hal barang jaminan telah di lelang, maka nasabah masih berhak untuk menerima uang kelebihan yaitu hasil penjualan dalam lelang setelah di kurangi uang pinjaman + sewa modal + biaya lelang.
Apabila kredit belum dapat di kembalikan pada waktunya dapat di perpanjang dengan cara di cicil atau gadai ualang. Kedua cara ini secara otomatis akan memperpanjang jangka waktu kredit.
Jika setelah di lelang terjadi kelebihan maka kelebihan dapat di ambil sesudah pelelangan. Tenggang waktu pengambilan uang kelebihan di tentukan selama 1 tahun setelah tanggal lelang. Apabila dalam waktu yang di tentukan tidak di ambil maka uang kelebihan ( kadaluarsa) akan menjadi milik perusahaan.
Dalam rangka pencapaian misi public service plus profit, manajmen melakukan cara:
1. Menyekolahkan pegawai dalam pendidikan formal (MM/MBA) maupun non formal (DPT,Penaksir,Pengelola Cabang, Middle management,Sekretaris, Statistik, dll).
2. Menghargai pegawai yang atas inisiatif sendiri melanjutkan kuliah/ sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
3. Mewajibkan setiap atasan selaku manager SDM untuk membina, mendidik dan melatih para pegawai bawahannya secara langsung.

 Nasabah utama
Berbagai lapisan masyarakat dapat memanfaatkan jasa pegadaian. Namun, sejalan dengan misinya, prioritas di berikan kepada masyarakat ekonomi lemah baik yang berpenghasilan tetap maupun yang tidak tetap. Kredit pegadaian bersifat multipropose baik untuk kebutuhan produktif , semi produktif maupun konsumtif.
Berdasarkan profesi, nasabah pegadaian mayoritas dari petani (52%) kemudian pedagang (16%), nelayan 6%, industri rumah tangga/kecil 2% dan lain-lain 24 %. Jumlah nasabahnya sbb: tahun 1991 sebanyak 3.156 juta ; 1992 sebanyak 3.294 juta ; 1993 sebanyak 3.343 juta ; 1994 sebanyak 4.198 juta ; 1995 sebanyak 4.757 juta.
1. Perum pegadaian, laporan keuangan pegadaian, 1996.
2. Perum pegadaian, prospektus, Jakarta, juni 1996
3. Siamat, dahlan, manajemen lembaga keuangan, intermedia,1995
(http://dewimutz.wordpress.com/2010/04/04/b-indonesia-pegadaian)

 Manfaat PERUM PEGADAIAN
Bagi Nasabah
Manfaat utama yang diperoleh oleh nasabah adalah ketersediaan dana dengan prosedur yang relative sederhana dan dalam waktu yang lebih cepat terutama apabila dibandingkan dengan kredit perbankan. Disamping itu, mengingat jasa yang ditawarkan oleh perum pegadaian tidak hanya jasa ditawarkan oleh perum pegadaian tidak hanya jasa pegadaian, maka nasabah juga dapat memperoleh manfaat antara lain ;
• Penaksiran Nilai suatu barang dari pihak atau institusi yang telah berpengalaman dan dapat dipercaya.
• Penitipan suatu barang begerak pada yang aman dan dapat dipercaya.

Bagi PERUM PEGADAIAN
Manfaat yang diharapkan oleh perum pegadaian sesuai dengan jasa yang telah diberikan kepada nasabahnya adalah ;
• Pendapatan yang bersumber dari sewa modal yang dibayarkan oleh peminjam dana.
• Pendapatan yang bersumber dari ongkos yang dibayarkan oleh nasabah yang memperoleh jasa tertentu dari perum pegadaian.
• Pelaksanaan misi PERUM PEGADAIAN sebagai suatu BUMN yang bergerak dalam bidang pembiayaan berupa pemberian bantuan kepada masyarakat yang memerlukan dana dengan prosedur dan cara yang relative sederhana.
(http://studentsite.gunadarma.ac.id/home/index.php?stateid=warta )

About these ads

~ oleh ebyvanhouten pada April 30, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: